Tolong, ini Sakit Sekali!
Pernah dalam sebuah acara milis, ada
selingan diskusi menarik di luar agenda acara antara ibu-ibu seputar kehamilan
dan kelahirann bagi perempuan. Tentang sakit dan tidak sakit yang dirasa.
Adakah perempuan yang tidak merasakan kesakitan ketika menjalani proses
persalinan? Entah itu dengan cara normal atau Caesar?
Banyak
hal yang kudapatkan dari diskusi tersebut. Seorang ibu dengan dua anak yang
kedua proses kelahirannya melalui Caesar, mengatakan bahwa bohong jika aad
perempuan yang mengaku tidak merasakan kesakitan ketika melahirakan. Semua
pasti merasakan sakit. Tentu saja si ibu ini tidak bermaksud menakut-nakutiku
yang saat itu sedang hamil dua bulan.
Meski
demikian, aku masih saja bertanya banyak hal kepada para ibu setiap ada
kesempatan. Memang ada beberapa ibu yang mengatakan pengalaman melahirkannya
yang tidak sakit. Biasa saja. Ada juga yang sakitnya ampun-ampun. Berserah diri
dan selalu memohon pertolongan-Nya adalah tugasku selanjutnya, menunggu
detik-detik kelahiran buah hati kami.
Hari
itu Jumat, 2 Mei 2008. Pagi buta ketika aku hendak wudhu dan Salat Subuh,
tiba-tiba dikagetkan dengan cairan being yang keluar terus-menerus dari jalan
lahir. Aku berpikir, apakah sudah saatnya au akan segera melihat dunia?
Bukankah perkiraan dokter masih 10 hari lagi. Ya Allah, cairan apakah ini?
Baik-baik sajakah bayi dalam rahimku?
Berusaha
untuk tidak panic, kemudian aku membangunkan suami. Setengah tersadar, suami
tidak memberikan jawaban atas pertanyaanku. Cemas dan panic justru terpancar di
mukanya, kebalikannya denganku yang santai. Tenang
ya, Bi! Tenang! Jangan panic! Bergegas, kami memutuskan untuk segera ke
bidan dengan membawa tas persalinan yang sudah kusiapkan sebulan sebelumnya.
Dari
buku yang pernah aku baca, proses kelahiranku ini kerkebalikan dengan proses
kelahiran normal. Seharusnya air ketuban pecah duluan, dan diawali dengan rasa
mulas, atau kontraksi. Sesampainya aku di tempat bidan, perutku belum juga
merasa mulas. Tidak ada kontraksi. Semuanya biasa saja. Meski demikian, ada
kekhawatiran ketika cairan bening itu terus merembes. Takut jika ia kekurangan
cairan di dalam.
Bidan
menyuruhku menunggu satu jam ke depan. Aku hanya disruruh tiduran. Biasanya
bidan menyarankan banyak jalan untuk kelahiran normal. Hanya kepastian yang
kuinginkan segera, apakah aku harus menajalani operasi Caesar ataukah masih
bisa diupayakan normal. Satu-satunya harapan tentu saja adalah yang terbaik
untuk janin yang kukandung. Meski kalimat positif itu terus kuucapkan: aku akan
melahirakan dengan normal dan lancar, bayiku akan lahir dengan sehat!
Tidak
terasa, satu jam cepat berlalu. Pada pukul delapan, hasil pemeriksaan bidan,
aku masih di pembukaan dua. Kondisiku masih nyaman-nyaman saja, tidak merasakan
mulas ataupun kontraksi. Pembukaan, dan berharap bisa melahirkan dengan normal.
Infus pun turut dipasang.
Ah,
ternyata tidak berselang lama aku merasakan sakit yang luar biasa. Semula
berlangsung setiap 10 menit sekali. Kemudian, waktu melambat beralih menuju
menit-menit yang menyiksa. Terus-menerus tak berjeda. Melilit, menusuk,
merobek, mengaduk-aduk. Ya Allah, sakit
sekali rasanya. Apakah memang begini rasanya? Apakah semua perempuan
menjalaninya? Ya Allah, berilah kekuatan, kemudahan, keselamatan untuk bayiku. Doa
dan kucuran air mata terus beradu. Tak henti-hentinya aku berdzikir memohon
pertolongan-Nya, agar aku tidak merasakan sakit yang tidak terperikan ini.
Beberapa
kali bidan memeriksa. Entahlah, aku merasakan bahwa apa yang kualami ini akan
sia-sia. Buktinya, beberapa kali bidan memangil suami dan kakak. Aku yakin,
mereka sedang membicarakan hal serius tentang kelahiranku ini. Ya allah, apa yang sebenarnya terjadi
denganku?
Sudah
selama tiga jam aku merasakan kesakitan. Doa terus kulantunkan. Air mata sudah
tidak lagi mewakili rasa sakit. Hanya kepasrahan yang ada. Hingga rasa sakit
itu semakin menjadi-jadi. Perut ini serasa diputar, diaduk, ditusuk. Ya allah, apakah ini sudah saatnya bagiku
untuk kembali kepada-Mu? Ya Rabb, jika ini kehendak-Mu, saya mohon selamatkan
bayiku. Biarkan ia selamat. Jika memang Engkau berkehendak, tukar saja nyawaku
untuknya.
Ketika
aku meminta penjelasan kepada suami, ia berusaha menenangkan. Tidak akan
terjadi apa-apa. Toh, aku sudah diinfus dan bayi kita akan baik-baik saja.
Meski demikian, aku tidak mempercayai begitu saja. Seolah ada hal yang disembunyikan.
Tidaklah mungkin infus bisa menggantikan air ketuban dengan instan.
Hingga
jam sebelas, terjawab sudah apa yang kucemaskan. Bidan menjelaskan bahwa
setelah melakukan induksi, tidak ada kemajuan dari proses kelahiran ini. Aku stag di pembukaan dua. Khawatir bayi akan
kehabisan cairan, maka perlu dilakukan tindakan Caesar, dengan merujuk pada
rumah sakit terdekat. Maka tidak ada pilihan lain, dengan ikhlas aku bersedia
melakukanya. Doa terus kupanjatkan untuk keselamatan bayiku. Jangan sampai
semuanya terlambat.
Merujuk
rumah sakit, sepertinya bukan lagi perjalanan yang singkat. Terasa jauh dan
lama. Rasa sakit yang tak tertahankan, berambah ketika jalanan menemui
goncangan. Hanya doa dan istigfar
yang terus terucap. Seakan kematian terasa semakin dekat. Begitu sampai di
rumah sakit, aku lebih tenang. Setidaknya dengan penanganan dokter. Setengah
jam setelah urusan administrasi selesai, tubuhku didorong ke ruang operasi.
Selanjutnya, suntikan anestesi local di
punggung membuat tubuhku menggigil terdengar suara gigiku yang gemertak. Bahkan
badan ini turut bergoyang karenanya.
Selanjutnya
aku memasuki ruangan yang sangat terang. Ada enam orang berbaju putih yang siap
melakukan operasi. Bagian tengah ruangan, tersedia meja seukuran tubuh,
dilengkapi tirai hijau lampu besar yang menyorot dan perlengkapan operasi di
sekitarnya. Persiapan pembedahan dimulai. Asisten memeriksa pengaruh antestesi
di tubuhku. Tirai pun ditutup. Kesadaranku tetap utuh, namun tidak bisa melihat
aktivitas yang mereka lakukan. Terasa tubuhku dikoyak ke kiri dank e kanan,
meski tidak ada rasa sakit. Ah, apapun yang
kujalani, aku ikhlas. Asalkan bayiku terselamatkan...
Tidak
lama proses itu berlangsung. Perawat mengantarkan bayi mungil dan memberikan
selamat. Ya Allah, inikah makhluk mungkil yang Sembilan bulan mengisi rahimku.
Kukecup keningnya dengan debar. Lega. Ya
Rabb, Alhamdulillah…
Komentar
Posting Komentar