Tendangan yang Mendebarkan
Memasuki usia kehamilan ke-20 minggu,
ibu hamil mulai merasakan getaran janin yang dikandunganya. Begitu juga yang
kurasakan. Seperti kepakan kupu-kupu, terbang menjelajahi dinding-dinding
rahimku. Ada rasa geli dan debar. Beginikah rasanya hamil dan akan mempunyai
anak?
Awalnya
, hanya mual, pusing, lemas, muntah yang menjadi ciri-ciri kehamilan. Apalagi
postur tubuhku yang kecil, tidak begitu menunjukan jika sedang berbadan dua.
Apalagi aku terbiasa memakai pakaian yang longgar. Maka semuanya serba biasa.
Tidak ada yang mengira jika diri ini sedang hamil.
Dari
minggu ke minggu, aku terus memantau perkembangan bayiku. Aku penasaran dengan
bentuknya di dalam. Seperti apa wujudnya. Berbagai referensi aku cari sejak
awal kehamilan. Kebanyakan melalui buku dan googling
di internet. Hmm, aku semakin takjub dengan perkembangan bayi setiap saat.
Hingga suatu hari, debaran halus kurasakan. Ahaa, apakah kau memanggil bundamu,
sayang? Apakah kau merasa lapar? Atau kau ingin mengajak bunda bercanda?
Aku
semakin menyadari akan hadirnya. Semakin sering aku mengelusnya. Mengajaknya
bicara. Suami pun aku libatkan dalam hal ini. Ia akan tertawa senang ketika
bisa meraba si kecil ketika sedang menggeliat. Dan, dengan nadanya yang lucu,
ia akan bertanya:”Lagi ngapain sih
Deeek?” Ah, bahagianya…
Perut
yang membuncit ini semakin aneh ketika si Dede mulai bermain. Gerakannya
kemudian semakin lincah. Entah, apa yang dilakukan bayi munggil itu. Menendang
kuat. Berputar sana kemari. Aku tidak bisa membedakan mana bagian kaki dan
kepalanya. Kadang lucu juga mengamati bagian perutku membenjol di sebelah kiri
dan kanan.
Lucunya
lagi, ketika berkunjung me mertua, maka ia selalu menanyakan gerakan yang
dilakukan cucunya. “Sudah gerak-gerak ya,
Neng?” Ketika aku menjawab, “Ya.” Maka dengan semangat ia akan menceritakan
kalau bayi yang kukandung sedang menggeliat dengan kedua tangan membentuk siku,
dan menonjok pada ujung perut sebelah kiri dan kanan. Ah, si emak ada-ada saja.
Sepertinya beliau sedang bersama si Dede sehingga bisa mengamatinya dengan
jelas. Hahaha…
Memasuki usia kehamilan yang ke-38 minggu,
gerakannya semakin berkurang. Ada kekhawatiran, paakah ada sesuatu yang
membahayakan dirinya? Ada cemas ketika tendangan itu tidak lagi sesering
sebelumnya. Memahami hal ini, kemudian suami menanyakan hal tersebut kepada
teman yang lebih senior. Alhamdulillah, ternyata
hal itu adalah reaksi alami si janin ketika kepalanya memasuki panggul.
Akhirnya aku bisa tersenyum kembali.
Komentar
Posting Komentar