Saat Harus Merelakannya Pulang
Lima
hari yang lalu, aku mengalami peristiwa menyedihkan yang selama ini tidak ingin
kurasakan. Peristiwa ini sudah tiga kali terjadi selama aku menikah. Dan
selalu, peristiwa ini mampu meluluhlantahkan perasaanku, berhasil mengaduk-aduk
batinku dan tentu sjaa membuatku tidak bisa menahan air mata mengalir dan
menderas di pipiku.
Hari
Selasa yang lalu, aku keguguran lagi. Ini bukan keguguran biasa, melainkan
keguguran yang ketiga kalinya dalam 16 bulan pernikahan kami. Dan seperti dua
keguguran sebelumnya, semua orang menyalahkan atas peristiwa ini. Hanya
orangtuaku dan suamiku saja yang berusaha membelaku dan terus mempompakan sikap
optimis padaku. Selebihnya? Semua menudingku. Aku yang egois tetap kerja, aku
yang tetap nekat naik motor, aku yang bermasalah dengan kandungan, aku yang…
aku yang… itu semua tudingan yang ditujukan padaku.
Menundukan
kepala dan diam. Hanya itu yang bisa kulakukan. Pengalaman dua kali keguguran
terdahulu telah mengajarkanku, tidak ada gunanya aku membela diri dan
menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ngotot menjelaskan dan membela diri
saat mereka masih tidak percaya ketika kuceritakan hala yang sebenarnya. Mereka
tidak tahu bahwa keguguranku hanya akan melelahkan. Toh, mereka masih tidak
percaya ketika kuceritakan hal yang sebenarnya. Mereka tidak taju bahwa
keguguranku yang pertama saat hamil 16 minggu karena ada kelainan kromosom pada
janin yang kukandung. Apakah aku yang menghendaki ini terjadi?
Lalu
keguguran yang kedua saat hamil tujuh minggu memang murni karena aku kelelahan.
Saking senangnya aku hamil lagi, aku sampai terlalu bersemangat. Apalagi saat
kehamilan kedua, aku merasa jauh lebih sehat. Lalu puncaknya, aku terburu-buru
pulang sehabis pengajian di kampus dan berlari mengejar bis dari jembatan
penyeberanganl. Bedrest pun tidak
membantu dalam kondisi ini. Kuakui, memang aku yang bersalah dalam hal ini.
Keguguran ketiga lima hari yang lalu, masih kurang jelas apa penyebabnya. Saat mengetahui diriku hamil,
aku langsung tidak bekerja. Bedrest dan
tidak melakukan apa-apa selain berbaring. Sampai migraneku kumat, aku masih bertahan karena semua ini demi janin
yang ada dalam kandunganku. Kuakui memang saat kehamilan ketiga ini secara
fisik aku beristirahat, tetapi tidak dengan pikiranku.
Pikiranku semakin tidak tenang, banyak
masalah dengan emosiku terguncang. Sampai saat sedang emosi berat, aku terduduk
lemass dan tidak kuat berjalan. Puncak masalahnya adalah tudingan beberapa
orang yang menyalahkanku karena meminjamkan uang pada tetangga. Berhari-hari
beberapa orang menyalahkanku. Yah, memang benar kata bapakku. Aku tidak boleh
menyalahkan ligkungan. Aku yang harus cuek dan tidak memikirkan apa kata orang
sejauh aku tidak menyalahi meereka.
Terlepas
dari sebeba keguguran tersebut, hatiku sedih luar biasa. Semuar orang yang
pernah mengalaminya pasti bisa merasakan apa yang kurasakan. Tiap mengetahui
diriku hamil saja aku selalu bersemangat. Bahkan sampau menulis dari kehamilan
untuk kenang-kenangan dan (rencananya) akan kuberikan anakku jika sudah lahir
nantinya. Namun siapa yang tau rencana-Nya? Selama tiga kali kehamilan, aku
belum pernah menyelesaikan diari tersebut. Semua berhenti ketika kehamilanku
berhenti.
Kesedihan
itu terus-menerus menyelimuti selama beberapa hari. Bukannya tak ingin, aku
terus berusaha untuk bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Semua yang kualami
sekarang ini juga terjadi atas kehendak dan pengetahuan Yang Maha Kuasa. Aku
berusaha keras untuk meyakini hal itu. Seperti halnya dia memberikan kehamilan,
maka Dia pula yang mengambilnya dariku. Sebagai hamba, apa yang bisa kulakukan
selain merelakannya?
Tiap
kali aku terpuruk dan merasa nelangsa, aku berusaha untuk bebaik sangka pada
Allah. Bahkan di setiap doa aku masih mendoakan tiga janin yang pernah singgah
dalam rahimku. “Nduk, Le, Umi merelakanmu
pulang duluan ke akhirat. Semoga nanti Umi, Abi, kalian, dan adik-adik kalian
bisa bertemu di surga. Umi merelakan kalian pulang duluan, mungkin ini yang
terbaik bagi kita sekeluarga. Umi tidak akan melupakan kalian karenakalian
titipan terindah dari Allah.”
Komentar
Posting Komentar