Pesan dari Bapak untuk Anakku

Jakarta,Minggu, 6 September 2009
Sehari sebelum Bapak pergi untuk selamanya, ia masih sempat menelponku. Suarnya di seberang terdengar sehat, segar, dan baik-baik saja. Bukan menjadi kebiasaannya menelponku, karena kami lebih sering melakukan teleconference antara kakak, adik, bapak atau ibu. Atau, kalau tidak, aku yang meneleponnya terlebih dahulu. Namun, tidak dengan Minggu pagi pada pertengahan Ramadhan itu. Nomor yang dipakai bukan yang biasa, mungkin sudah ganti lagi. Tapi aku menghafal suaranya yang khas. Masih saja renyah, tegas, dan jelas. Tidak seperti ibuku yang seringkali perlu mengulang pertanyaan untuk memperjelas jika bicara melalui telepon.

                Sekitar sepuluh menit percakapan terakhirku dengannya berlangsung. Tidak banyak yang ia katakana. Ah, selalu saja ia mengkhawatirkan keadaanku, Nibras, dan bayi yang sedang kukandung. Padahal, akulah yang harusnya lebih mengkhwatirkan kondisinya. Sudah tiga tahun terakhir Bapak seperti tidak pernah sakit sama sekali. Ada kelegaan ketika mendengar kabarnya yang sehat. Segera kutepiskan pikiran tentang keanehan teleponnya yang tidak biasa berpikir bahwa Bapak memang sedang kangen sekali pada kami.

                Mengetahui Nibras sudah baik berjalan dan berlari, padaku ia berpesan, agar menjaganya dengan baik. Anak seumur Nibras lagi sedang aktif-aktifnya. Butuh penjaga ekstra. Jika lengah sedikit, maka akan sering terjatuh. Lebih lanjut, Bapak berpesan untuk mengambil pembantu agar lebih ringan bebanku, mengingat aku sedang hamil yang kedua. Akan sangat capek dan repot jika suaranya yang mencemaskanku. Berharap aku segera mendapatkan pembantu yang bisa menginap, tidak seperti saat ini yang datang agak siang dan pulang sore.

                Jika saja aku menyadari bahwa itu telepon terakhirnya, aku akan segera memesan tiket kereta api untuk pulang sore itu juga. Berharap esoknya aku masih bisa bercanda dengannya, mengantakan cucu kesayangannya, yang baru sekali ditemuinya pada lebaran tahun kemarin sejak kelahiran Nibras. Maklumlah, bukan jarak yang dekat untuk bisa sering-sering berkunjung ke Ponorogo. Setidaknya butuh waktu semalaman untuk bisa sampai ke sana.

                Masih kuingat bagaimana senangnya Bapak melihat Nibras untuk pertama kalinya. Kupahami jika Bapak sudah sangat kangen ingin bertemu, mengingat pertemuan itu sudah lama dinantikan. Segera Nibras diajak bercanda, memangku, menggendong, dan mengabrakan kepada orang-orang bahwa cucunya tampan, menggemaskan dan murah senyum. Ia mengajarkan pada Nibras untuk memanggilnya “Angkung”, singkatan dari Eyang Kakung. Tentu saja Nibras yang saat itu masih lima bulan belum bisa meniru pelajaran dari Bapak.

                Ah, andai saja aku tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhir utuk berbincang dengannya, maka aku akan meminta nibras mengoceh dan menyapa kakeknya di sebrang. Memanggilnya dengan sebutan yang ia inginkan: Angkung. Sayangnya hal itu justru tidak terpikiran olehku. Begitu cepat ia mengakhiri teleponnya, bahkan Bapak juga tidak sempat untuk berbincang dengan suamiku. Meski sungguh, ada rasa enggan ketika harus menutup telepon, mengakhiri perbincanganku dengannya.

Jakarta, Senin, 7 Desember 2009
Senin siang sekitar pukul 14.00 WIB, aku mendapatkan telepon dari kakak. Tanpa basa-basi, kakak menyampaikan tentang kabar dari rumah. Deg… perasaanku sungguh tidak karuan. Berdebar, menanti apa yang sesungguhnya terjadi. Perasaan cemas dan takut kehilangan terhadap orang-orang yang kucintai tiba-tiba menyergap. Dan benar saja, kakak mengabarkan bahwa Bapak telah pergi untuk selamanya. Ya Allah, bukankah baru kemarin ia menelponku dengan kondisi yang baik-baik saja. Memekik sesaat, lemas, seluruh persendian. Rasa tidak percaya, ingin menangis, sedih, bercampur aduk dalam hatiku. Ah, seandainya aku tahu…
Hari itu, Senin yang paling memilukan yang pernah kulalui. Linangan air mata terus-meneurs mengalir sepanjang perjalanan kereta api Express Jakarta-Madiun. Hampir semalam suntuk aku tidak bisa tidur. Pantas saja esoknya mataku membengkak merah.

Ketika masih kecil, ada rasa bangga ketika aku di bonceng sepeda motor olehnya. Betapa bahagianya aku memiliki seorang Bapak yang cerdas, disiplin, gagah, dan bertanggung jawab. Dan yang paling menonjol adalah rasa sayang dan peduli kepada anak-anaknya. Ah, jarang kutemui ada Bapak yang mau memasak untuk anak-anaknya, mencuci piring, membersihkan rumah, dan berbagai pekerjaan rumah yang dikuasainya dengan baik. Termasuk pula, kemauannya menuruti keinginan keempat anaknya yang masih kecil-kecil berwisata ke kebun Binatang Surabaya. Seorang diri, tanpa ditemani ibu, perjalanan empat jam itu pun dipenuhi, demi menyenangkan anak-anaknya.

Terkait pendidikan, jangan diragukan lagi, Bapak seringkali memantau perkembangan anak-anaknya. Sesekali ia mengadakan cerdas cermat, Bapak sebagai juri dan kami sebagai peserta. Aku yang saat itu paling bungsu, turut bersemangat menjawab dan tidak mau kalah. Meski dalam kondisi ekomoni yang sangat pas-pasan, Bapak berusaha memberikan yang terbaik kepada kami. Untuk keperluan sekolah, ia tidak enggan untuk mengupayakan, meski harus berhutang dan telat membelikannya untuk kami.

Ponorogo, Selasa, 8 September 2009
Semakin mendekati rumah bapak, kesedihan semakin tak tertangguhkan. Terlihat bendera putih setengah tiang, bertuliskan “Innalillahi wa Inna Ilaihi roji’un”  dalam huruf Arab terpasang di depan halaman. Mobil jemputan tepat berhenti di depan rumah. Tidak kuasa aku menahan air mata yang terus mengucur. Pemandangan ini pernah ada dalam banyangan. Dan kini, semua benarlah adanya. Betapa aku tidak siap kehilangan dirinya.

                Susah payah aku menata hati untuk bisa mengihlaskan kepergian Bapak. Menegarkan hati bahwa inilah jalan yang terbaik, yang dipilihkan oleh-Nya. Meski aku yakin, jika Bapak masih ada, betapa senangnya ia melihat tingkah polah Nibras yang sudah bisa berlari ke sana kemari. Memarekan senyumnya yang lucu ke semua orang. Menarik tanganmu untuk mengantarkan ke tempat yang ia mau. Menanyaimu unuk menyebutkan nama segala benda yang ia jumpai.

                Ah, Bapak memang sudah tidak ada lagi di sana. Hanya renyah suaranya yang masih terngiang, yang sesekali diselingi sesak nafasnya yang tersengal. Akan kuingat selalu pesannya untuk Nibras anakku, cucu yang disayanginya.

                “Bapak, aku akan selalu menjaga cucumu, memberikan yang terbaik untuknya, meneladanimu sebagaimana kau merawat dan membesarkanku. Selamat jalan, Bapak. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.”

Komentar