Ngidam Aneh!
Semenjak
hamil, topik diskusiku memang seputar kualami, termasuk masalah ngidam. Di
antara teman diskusiku saat itu adalah ibu kos, tetangga, saudara, teman chatting, teman ilis, dan sebagainya.
Tidak sedikit cerita yang kudapatkan sangat aneh dan lucu, termasuk yang sulit
dipercaya. Suatu hari ibu kos bercerita tentang ngidam saudaranya yang aneh.
Aneh, karena yang merasakan bukan sang istri, justru suaminya setiap hari ingin
makan rujak. Lebih aneh lagi adalah ketika mereka mengaku janjian terlebih
dahulu sebelum kehamilan, agar yang ngidam suaminya saja.
Ada
lagi cerita kakak ipar tentang ngidamnya yang aneh. Suatu hari ketika melewati
stasiun, ia melihat tukang buah yang menjual mangga. Begitu inginnya, ia harus
mendapatkan mangga tersebut. Ketika sang suami membelikan mangga di tempat
lain, maka buah itu pun tidak juga disentuhnya. Hanya mangga yang dijual di
stasiun saja yang ia harapkan. Hahaha…
Setiap
perempuan hamil memiliki keinginan menggebu atau yang biasa dijuluki dengan
istilah ngidam yang berbeda-beda. Tidak melulu rujak atau yang asem-asem yang
diinginkan. Tidak selalu makanan, bisa jadi berupa keinginan sesuatu atau
melakukan suatu hal. Bahkan yang mustahil pun bisa diminta oleh perempuan
hamil.
Ada
yang mengatakan masalah ngidam adalah keinginan si bayi yang ingin mencoba
makanan di dunia, dan disampaikan melalui ibunya. Bahkan, jika tidak dituruti,
ada yang beranggapan anaknya akan sering ngiler
jika sudah lahir nanti. Ada juga yang berpendapat, jika tidak dipenuhi, maka
sang bayi tidak mau keluar pada saat kelahiran. Parah, bukan?
Suatu
hari, ketika aku ingin makan durian, maka aku tinggal mengajukannya ke ibu
mertua ketika aku berkunjung ke sana. Entahlah, untuk buah yang satu ini aku
memang doyan. Kapan saja melihatnya, pasti selalu kepengen. Kebetulan di Bogor
saat itu sedang musim durian. Sepanjang jalan, mata tidak pernah lepas menatap
tumpukan durian dengan aromanya yang mengundang selera. Pernah sebelumnya aku
minta pada suami, dan dibelikan di supermarket dengan harga yang cukup mahal
dan sayangnya buahnya sedikit. Walhasul, tetap saja aku tidak puas dan masih
menginginkannya lagi.
Dua
buah durian pun dipersembahkan untukku pada hari itu juga. Suami sudah berpesan
beberapa kali, agar makanannya sedikit demi sedikit. Khawatir, janin yang
sedang berkembang tidak kuat dengan jandungan durian yang panas. Syarat itu
sedikit aku langgar, aku memakannya lebih banyak dari jatah yang di tentukan.
Wow,
dan apa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Aku merasakan demam, dan
perut panas. Esoknya aku diajak kebidan, dan diingatkan untuk tidak makan
durian selama kehamilan. Walah, perasaan banyak referensi yang membolehkan ibu
hamil untuk makan apa saja. Demi janin yang kukandung, dan rasa bersalah, maka
aku diminta berjanji untuk tidak melakukanya lagi. Hiks…
Komentar
Posting Komentar