Malaikat Kecilku
Menatapmu untuk pertama kalinya, untuk kemudian mengeccup
keningmu, adalah sebuah ketakjuban tersendiri. Nyatanya dirimu tidak sekecil
dalam bayangan. Karena sebulan sebelum kelahiran, beratmu masih 1,9 kg saja. Kulit
yang bersih, wajah yang tampan, terasa sempurna dalam segala hal. Begitu bahagianya
Bunda saat itu, hingga yang tersisa adalah rasa tanggung jawab dan hasrat kuat
kecil dengan hadirnya dirimu, malikat kecilku. Tidak ada rasa bosan menatap
bayi mungil nan tampan, yang masih terbalut kain penghangatnya.
Hidup Bunda
berubah seketika dengan hadirmu. Ketika tengah malam tiba-tiba ada bayi mungil
menangis, Bunda akan segera mencari penyebab tangismu, bekerja ibarat mesin,
tanpa siapapun yang menyuruh. Menggantikan popokmu ketika pipis atau pup.
Memberikan ASI dengan sigap, khawatir jika kau sudah haus atau lapar.
Pada awal
kelahiran, Bunda sempat stress. Kaget ketika Bunda harus merawatmu nonstop, begadang setiap malam.
Menenangkan tangismu yang membahana. Memberikan ASI yang kadang berjam-jam tak
jua kau lepas. Badan Bunda kembali mengecil, hingga angka 36 kg saja. Stamina
Bunda kadang tidak bagus, sering sakit-sakitan. Kalau sudah begini, emosi
menjadi tidak menentu. Kadang bunda merasa capek, berharap bisa istirahat
beberapa saat. Namun, ketika kesempatan untuk itu benar-benar datang, Bunda
akan segera kangen padamu. Mencarimu, dan tidak ingin jauh darimu. Ah, Bunda
tahu jawabnya, mengamatimu ketika kau lelap tertidur adalah sebuah kebahagiaan
yang tidak terhingga. Jika sudah begini, entah ke mana hilangnya rasa capek
sebelumnya.
Oh ya,
proses kelahiramu dengan cara Caesar, ternyata tidak menjadikan perkembanganmu
lambat. Bahkan, kau tumbuh lebih cepat daripada yang lainnya. Terlihat, kau
tampak cerdas dibanding bayi seusiamu. Tekad untuk memberikan yang terbaik
selalu Bunda tanamkan. Seperti tidak peduli iming-iming susu formula, Bunda
hanya akan memeberikan ASI eksklusif kepadamu. Tidak heran jika kau tampak
sehat, lucu menggemaskan, dengan daya tahan tubuh yang lebih kebal. Bunda tidak
akan menggantungkan urusan kesehatanmu kepada bidan atau dokter, karena dirimu
memiliki antibody tersendiri. Beberapa kali Bunda harus belajar tentang
berbagai penyakit anak. Tidak jarang Bunda berdebat dengan ayahmu, untuk
memutuskan tindakan terbaik ketika engkau sakit. Ah selalu saja hati ini tidak
rela rasanya jika tubuh mungilmu teracuni dengan berbagai obat-obtan berdosis
tinggi.
Malaikat kecilku, ternyata masih
ada banyak hal yang belum bisa Bunda ketahui dengan baik. Amanah ini
ternyata tidaklah mudah. Terkadang Bunda
meragukan, apakah bisa melakukan yang terbaik untukmu. Tapi Bunda berjanji,
untuk terus belajar banyak hal, mencoba dan terus memberikan yang terbaik. Memang,
tidak ada satu cara pun untuk menjadikan Bunda menjadi ibu yang sempurna. Tapi,
bukankah ada sejuta cara untuk menjadi ibu yang baik?
Komentar
Posting Komentar