Mari Bekerja dengan Bundamu, Nak!

Dan begitulah yang terjadi pada diriku. Begitu menikah, segalanya menjadi berubah. Dalam usia ke-27 tahun setelah mengakhiri masa lajang, aku langsung hamil. Sombong namanya jika aku berharap bisa tetap bekerja giat, sangat rajin, mampu melakukan segalanya, dan bisa pergi ke mana-mana. Meski itu semua sangat kuinginkan. Nyatanya begitu hamil, kondisi fisikku berubah drastic. Tidak hanya itu, secara psikis aku menjadi lebih rentan. Berjauhan dengan suami, tinggal seorang diri, berusaha menyelesaikan perkerjaan dengan baik, ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Betapa aku sering lemas dan hanya ingin tidur pada awal kehamilan, meski pada jam kerja. Masa ketika aku tidak bisa lagi mementingkan karierku, karena harus mencurahkan perhatian pada kunjungan weekend-nya, sedangkan bos menuntutku mengikuti pertandingan Badminton, meski hanya untuk meramaikan saja.

            Maka, kondisi itu aku pertahankan selama dua bulan saja. Selanjutnya, aku meminta resign kepada bos, dengan alasan mengikuti suami karena sedang hamil dan tidak ada yang menjaga. Berbagai alasan untuk mempertimbangkan kembali diajukan kepadaku. Bahwa melahirkan, mengurus dan membiayai anak membutuhkan biaya yang tidak tidak sedikit. Tidak zamannya lagi menggantugkan semuanya kepada suami, jika kita menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Sedangkan suami menyerahkan sepenuhnya keputusan itu kepadaku. Tetap bekerja dengan kondisi seperti ini atau tinggal bersamanya dengan pemasukan seadanya.

            Hingga ketika masa melahirkan tiba, aku meminta cuti selama dua mminggu kepada atasan, perhatian kucurahkan sepenuhnya untuk bayi mungil yang lahir dengan cara Caesar. Luka bekas sayatan pisau di perutku ternyata sangatlah menyiksa. Idealisme untuk segera bekerja, mendapatkan kembali uang untuk menutup biaya Caesar, dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah keinginan terpendam yang ingin segera kuwujudkan.


            Stres kemudian dating menderaku. Pekerjaan kantor yang menggunung sudah menunggu untuk diselesaikan. Dalam kondisi sehat, meurutku ini adalah pekerjaan sederhana.namun sayatan pisau yang masih sangat terasa membuatku susah untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik. Sinyal yang susah diterima, menjadikan pelerkaan ini ribuan kali lebih sulit. Beberapa hari aku berusaha bersabar dan menyelesaikan tugas ketika Nibras lelap tidur. Sayangnya, tidak lebih dari 15% saja pekerjaan itu bisa kuselesaikan. Teguran dari kantor membuatku bertekad menhajak Nibras ke warnet yang jarangknya dekat. Dengan naik angkot, aku mengajaknya serta bersama terik siang yang mengganggu tidurnya. Maafkan Bundamu, ya Nak!

Komentar