Kolik yang Mengejutkan

Sore itu aku dikejutkan oleh tangisnya yang tiba-tiba. Lengkinganya yang membahana, terdengar ke seluruh penjuru rumah. Usianya baru dua bulan saat itu. Tentu saja aku sangat mengkhawatirkannya. Berbagai cara telah kucuboa untuk menenangkannya. Aku mencari penyebab tangsinya. Pipis, nggak. Pup, juga bukan. Kemudian kupikir ia masih haus atau lapar. Nyatanya ia tidak mau enen.

Tangsinya semakin kencang. Digendong, diayun, tangisnya semakin pecah. Sedih mendengarnya. Sepertinya ia merasakan sakit yang tidak tertahankan. Mukanya berubah kemerahan. Perutnya tegang. Ia menarik kaki dan mengepalkan tangannya. Allah, apa yang harus kulakukan? Apakah aku salah atau terburu-buru menggendongnya, hingga badannya kesakitan? “Ya Rabb, limpahkan sakit itu padaku saja! Aku tak sanggup mendengar tangisnya…”

Bingung mencari penyebabnya, ibu mertua menghampiri kami. Dengan bantuannya, kami mencoba menengankan Nibras. Mengayun menggendong, mennyanyikan untuknya. Langkah yang biasanya manjur itu kini tidak berfungsi lagi. Tangisnya tetap terdengar kencang hingga ke tetangga. Usaha untuk tetap tenang dan tidak panic ternyata sangat susah, ketika Nibras tidak bisa diajak kompromi.

Tangisnya berhenti sesaat, kemudian datang lagi. Begitu terus-menerus. Waktu terus beranjak malam. Namun tangis Nibras belum mereda juga. Kini tidak lagi aku dan ibu mertua yang mencoba menenangkannya, kakak ipar pun urut datang unutk mencoba memberikan solusinya. Keringatku pun urut bercucuran. Bermacam pertanyaan diajukan kepadaku: Apa saja yang kulakukan dengan bayiku? Bagaimana awal mulanya? Sudah berapa lama? Dan berbagai pertanyaan yang seolah menyudutukan bahwa itu mutlak kesalahanku. Ah, aku pikir bukan saat yang tepat mereka menanyakan berbagai hal padaku. Bukan berarti aku tidak suka akan kritik, hanya saja waktunya tidak tepat. Bukankah lebih baik segera mencari solusinya, daripada saling menyalahkan? Dan, aku sebagai ibunya, pasti lebih mengkhawatirkan kondisi bayiku daripada siapapun di dunia.


Di kampung, biasanya jika ada bayi yang rewel atau sakit, maka akan segera dibawa ke dukun bayi. Begitu pula yang dilakukan ibu mertua. Emak Jeha, dukun yang pernah merawat Nibras di awal kelahiran, emak Jeha mencoba turut membantu. Dengan sigap, ia meminta kami membuat ramuan bawang merah dicampur mintak telon. Selanjutnya, ramuan itu pun dibalurkan ke punggung dan perut Nibras dengan sedikit usapan lembut. Tidak berapa lama, tangisnya mereda. Betapa aku diuntungkan dengan tidak berpikir parahnya penyakit yang diderita anakku, sehingga harus keluar uang banyak untuk mengatasinya. Nyatanya, tidak berapa lama ramuan sederahana itu bekerja, Nibras pun tertidur pulas. Alhamdulillah.

Komentar