Kisah Kami: Engkau Lelaki, Kelak Sendiri

Enam belas bulan sudah kini Nibras berada di antara kami, menghadirkan hal-hal unik yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Menciptakan pola hidup, yang terus terang saja, kami tidak terbiasa. Bundanya sudah jadi nocturnal sekarang, setiap kali erang kesahnya membahana rupa, ia akan dengan sabar menenanggkan Nibras di antara kantuknya. Mengganti popok, menabrukan bedak, lalu mendekapnya hangat sambil sesekali menguap. Itulah kisah cinta di antara kami bertiga, Saya, Endah, istriku dan bayi kami yang tampan, Nibras.
                Menikah di usia yang belum cupu dewasa secara kualitas sudah sangat menjadi hal yang luar biasa bagi saya, apalagi menjadi orangtua, seorang ayah. Apakah saya bisa melewatinya? Hmm.. saya tidak punya cukup banyak waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Saya akan segera menjadi ayah. Belum lama usia pernikahan saya dengan Endah, selang sebulan saya mendapat kabar bahwa ada makhluk kecil bersarang di rahimnya. Tidak ada petir menyambar, tidak seperti tersengat lebah. Adrenalin pun bergerak konstan. Tidak ada gejolak yang berlebihan, hanya, syukur yang semilir di hati saya.
                Lambat laun, kehidupan kami terwarnai oleh kehadiran si kecil. Kami bacakan setiap email atau sms yang datang dan membawa-bawa namanyam terutama dari beberapa sahabat. Membaca doa menjelang tidur bersama-sama, doa makan, dan lain-lain. Semuanya terjadi sejak Nibras hadir, lalu cinta saya terbagi dua. Ada makhluk kecil yang tiba-tiba mengisi jeda diantara kami, ada tangisan di tengah malam kami, ada aroma pipis yang tertinggal di coverbed, wangi minyak telon, baby oil, dan ketidakbiasaan kami yang lain. Ya, saya segera bertransformasi, berusaha menjadi seorang ayah yang baik. Pun saya masih belum mampu mendefinisikan ayah yang baik dengan sempurna, saya akan berusaha melakukannya.
                Perjalanan pulang dari kantor yang nyaris selalu macet dan penat pun, tidak terlalu menjenuhkan ketika saya membayangkan bahwa nanti, ketika terlalu menjenuhkan ketika saya membayangkan bahwa nanti, ketika sampai di rumah, ada seorang bayi tampan yang lucu akan menyongsong kedatangan saya. Tertawa renyah dan meracau denga bahasa bayinya yang universal. Tentu saja meski tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi saya akan berusaha menjawab semua pertanyaan dengan apapun yang terlintas di benak. Atau, saya akan menanyakan permainan apa saja yang diajarkan bundanya hari ini. Tentu saja setelah terlebih dahulu membersihkan tangan dan muka saya dengan wudhu. Agar Nibras tidak menghirup sisa-sia polusi yang ikut serta selama saya dalam perjalanan.
                Saat ini, saya hanya akan memanjakannya semampu saya. Saya akan berusaha memberinya yang terbaik semampu yang saya bisa berikan. Nibras harus mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan di usia kanak-kanaknya. Dan pada suatu saat, ketika ia dewasa, saya akan berlaku adil padanya. Saya akan menghukumnya ketika ia melakukan kesalahan, dan hanya akan bersyukur ketika ia melakukan kebaikan. Karena ia lelaki, dan kelak ia akan sendiri.

(Diceritakan oleh suamiku: Dani Ardiansyah, Depok)

Komentar