Setelah Dua Puluh Tahun Menantimu
Kebahagiaan bagi pasangan yang baru saja menikah adalah
ketika semua harapan yag direncanakan pada awal-awal pernikahan terwujud tanpa
harus menunggu lama. Pernikahan bagi mereka adalah tuntasnya kerinduan pada
banyak hal yang ketika masih lajang, hal tersebut hanya sebuah mimpi. Dan
pernikahan adalah gerbang menuju terwujudnya mimpi-mimpi tersebut.
Sebut saja
Elly, seorang sahabat yang tak jarang mencurahkan isi hatinya padaku tentang
betapa gampangnya ia melalui pernikahan, tentang betapa gelisahnya ia menanti
terwujudnya harapan-harapan tersebut.
Pernikahan
Elly pada awalnya dipenuhi dengan berbagai harapan indah. Suaminya, Aryo,
bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan semangat, tak di hiraukannya lelah yang mendera. Tentu saja semua itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga yang pastinya seperti mimpi mereka selama ini, menyongsong
kehadiran si buah hati. Tanda cinta yang sangat mereka idamkan.
Waktu terus
berputar, meninggalkan masa yang terus berlalu. Hari berganti, hingga satu
tahun usia pernikahan mereka, tanda-tanda datangnya seorang buah hati belum
juga muncul. Padahal sejak awal pernikahan, rencana itu begitu sempurna. Tak ada
sedikit pun keinginan untuk menunda kehamilannya.
Memasuki
tahun keenam pernikahan mereka, Elly semakin terbebani dengan keputusaan di
hatinya. Ia malah sempat menyarankan agar suaminya mencari perempuan lain,
mungkin dengan begitu ia bisa memiliki anak yang selama ini ia idam-idamkan. Namun
Aryo menolak dengan keras dan selalu menghibur untuk senantiasa bertawakal.
Hasil diskusi
yang sering kami lakukan terkait dengan permasalahan yang di hadapi Elly, aku
menyarankan agar mereka memeriksakan kesehatan alat reproduksi. Sebenarnya
saran itu pernah dilontarkan beberapa waktu yang lalu, meski mereka seringkali
menolak. Elly beralasan khawatir tidak siap seandainya hasil pemeriksaan
mengatakan salah satu dari mereka ternyata mandul. Meski kekhawatiran yang
tidak berasalan itu tetap di pertahankannya. Hingga belakangan ini ia pun
berpikir jika sudah jelas salah satu dari mereka ternyata mandul, setidaknya
mereka tak lagi terus berharap berlebihan.
Aku ikut
merasakan lega ketika mendapati hasil tes pemeriksaan kesehatan mereka
baik-baik saja, namun juga sedih menyadari keadaan sahabatku yang seperti itu. Tapi
setidaknya, Elly dan suaminya masih punya harapan. Meski hingga saat itu mereka
belum mendapatkan kepercayaan dari Yang Maha Kuasa untuk memiliki anak.
Saran
dari orang-orang terdekatnya tidak pernah berhenti, tidak sedikit yang
menyarankan agar Elly mengambil anak asuh. Salah seorang saudara Elly yang saat
itu melahirkan anak kelima dengan sukarela memberikan anak yang baru saja ia
lahirkan karena keadaan ekonominya yang tidak memungkinkan.
Harapan
baru mulai tumbuh pada hari-hari Elly dan suaminya. Mereka tampak begitu
bahagia dengan kehadiran seorang bayi di tengah-tengah kehidupan mereka. Meski tetap
saja Elly masih selalu diliputi perasaan khawatir, karena walau bagaimanapun
anak itu bukan anak kandungya dan suatu saat pasti akan kembali pada orangtua
yang sebenarnya. Ia khawatir, ketika saat itu tiba, Elly tidak mampu
merelakannya. Dan kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan.
Elly
begitu terpukul ketika anak angkatnya harus kembail ke pangkuan orangtua
kandungnya, karena mereka harus kembali ke pangkuan orangtua kandungnya, karena
mereka harus berpindah tempat tinggal. Tidak terkira rasa sedih saat anak
angkatnya merapikan semua barang yang ada dalam kamar. Elly tidak berhenti
menangis, pesannya pada si anak saat mereka berpisah sungguh membuatku
berlinang air mata. Saat ia menatap dengan pandangan sedih dan berkata. “Nak,
kamu jangan nakal ya, sering-sering nengokin Mama ya,” pesannya, sambil
memeluknya dengan erat.
Dua
puluh tahun lamanya mereka menunggu. Dua puluh tahun lamanya mereka bersabar
dengan segala rasa sedih, gundah dan kecewa. Sampai pada suatu saat ia bermimpi
didatangi seorang pria tua dengan jubah putih dan memberikan sesuatu yang tidak
ia mengerti. Satu bulan sejak mimpi itu, Elly mendadak merasakan hal aneh
dengan dirinya. Ada sesuatu yang tidak biasa yang selama ini tidak pernah ia
rasakan sebelumnya. Perasaan di mana ada sebuah nyawa yang menetap di rahimnya. Perasaan yang
bahkan seorang perempuan dengan 20 tahun penantiannya akan langsung mengenali
perasaan itu. Kehamilan. Terlepas dari seorang pria tua dalam mimpinya, Allah
SWT telah menetapkan itu jauh sebelum Elly tahu. Penantian panjang yang berubah
kebahagiaan.
Komentar
Posting Komentar