Haruskah Semua Dilakukan Demi Anak?

Menjadi ibu baru membuat banyak perempuan terkaget-kaget. Pola hidup yang tiba-tiba saja berubah dari biasanya, bahkan bisa jadi tidak pernah terbersit sebelumnya. Aku pun mengalami hal yang sama. Aku pikir, jika banyak perempuan bisa menjalani kehidupan awal rumah tangga, hamil, untuk kemudian memiliki anak, maka aku pun dengan mudah akan menjalani hal itu. Nyatanya semua tidaklah semudah berimajinasi sebelum pernikahan. Hingga aku mulai memahami bahwa inilah pekerjaan tersulit di dunia.

            Kemudian aku mencoba memahami jalan berpikiran kaum feminis bahwa jika seorang wanita menjadi ibu rumah tangga, ia tidak akan utuh sebagai pribadi dan akan mengobarkan pencapaian-pencapaian yang sudah ia dapatkan. Tidak jarang kudengar mereka mempertanyakan berbagai hal: Haruskah perempuan bangun pagi, mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan urusan rumah tangga lainnya? Haruskah perempuan melepaskan karier hanya untuk merawat anak?

            Ketika seorang perempuan menikah dengan pasangan yang diinginkan, kemudian keduanya mengejar karier, biasanya tidak ada masalah dengan rumah tangga mereka. Mereka bisa berbagi tanggung jawab, seperti urusan mencuci, memasak, dan sebagainya. Masalah justru akan muncul ketika istri mulai hamil dan melahirkan. Tentang siapa yang akan merawat bayinya kelak.

Menjaga pernikahan adalah tanggung jawab bersama. Merawat anak lebih pada tugas kita sebagai ibu. Sedangkan suami bekerja untuk menafkahi kita. Andai saja pernikahan ini tidak langgeng selamanya, bukankah ‘PEMBERI REJEKI’ itu masih ada? Bukankah selama ini kita hanya bergantung pada-Nya? Akan lebih baik jika kita berdoa untuk keharmonisan rumah tangga, kebaikan anak kita, dan memohon rejeki yang terus mengalir melalui suami kita. Apa lagi yang kita takutkan? Kita tidak perlu khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Memang, membesarkan anak dan membangun keluarga membutuhkan usaha keras. Kita bisa dibuat stress karenanya. Tapi inilah jalan yang membuat kita harus bertumbuh dan dewasa.

Bukan pilihan keliru juga ketika istri memilih melepaskan karier dan fokus mengurus bayi dan rumah tangganya. Dengan demikian buah hati mereka berada di tangan yang paling tepat. Seorang yang aman, yaitu ibunya sendiri. Pilihan inilah yang saya sukai. Meski aku juga berupaya untuk terus bekerja secara freelance untuk menambah finansial kami.


Pastinya, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok. Siapapun bisa mengalami masalah keuangan, meski tidak ada yang mengaharapnya. Namun satu hal yang perlu kita ingat, bekerja atau tidak, rejeki bukan di tangan kita! Pahami, semua hidup kita ada dalam kendali-Nya! Lantas, masihkah kita dijejali dengan beribu pertanyaan ‘HARUSKAH’ untuk peran indah yang kita putuskan untuk dijalani?

Komentar