Anakku Terlahir Tak Sempurna

Memiliki anak yang cantik atau tampan, memiliki fisik yang sehat dan sempurna, berkembang normal pastinya menjadi impian setiap orangtua, terutama ibu. Masa penantian selama Sembilan bulan, seringkali diliputi oleh rasa penasaran, akan seperti apa wujud anaknya kelak. Apalagi pada kehamilan pertama. Semakin mendekati proses kelahiran, rasa khawatir tidak jarang muncul. Akankah ia bisa melahirkan dengan normal? Apakah buah hati akan terlahir sempurna? Dan segudang pertanyaan lainnya.

            Aku mengalami hal yang sama. Ketika hasil USG satu bulan sebelumnya berate bayi dinyatakan kurang, hanya 1,9 kg saja, maka bermaca pikiran buruk sering berkelebat tanpa diminta. Bagaimana jikabayi yang terlahir nanti cacar? Siapkah aku mengasuhnya? Apakah suami masih akan membanggakannya? Apakah keluarga sanggup menerimanya?

            Pikiran buruk itu baru berhenti ketika jabang bayi benar-benar sudah terlahir. Memastikan dari ujung rambut hingga kaki. Menghitung jari tangan dan kakinya, apakah genap atau tidak. Mengamati bentuk hidung, mulut, mata dan telinga, apakah semuanya normal. Awalnya aku sempat aneh melihat kepala anakku yang lonjong memanjang, dan daun telinga sebelah kanan yang belum tumbuh sempurna. Khwatir ada kekecawaan pada suamiku, nyatanya hal itu tidak kutemukan. Syukurlah…

            Seiring berjalannya waktu, bentuk kepala memanjang itu berubah normal. Dan itu adalah hal biasa yang terjadi pada bayi. Begitupun dengan daun telinga  yang sempat aku khwatirkan, ternyata bisa berkembang ketika janin sudah keluar. Maklumlah, kelahiran anakku maju dari perkiraan. Mungkin itu yang menjadi alas an bagian tubuhnya ada yang masih belum tumbuh sempurna.


            Aku pun sangat bahagia karenanya. Hilang sudah kekhwatiran dan rasa cemas, seperti apa wujud anakku ketika lahir. Namun demikian, ada perempuan-perempuan yang harus diuji dengan kurang sempurnanya bentuk fisik anak yang terlahir dari rahimnya. Ada yang bermasalah pada pendengaran, ada yang mengalami kebutaan sejak lahir, ada yang kakinya lumpuh, otaknya lemah, dan sebagainya. Aku bersyukur, bentuk ujian semacam ini tidak ditimpakan kepada diriku. Sebaliknya, aku salut dengan permpuan-perempuan yang mampu menjalani ujian ini. Karena memang tidak mudah menghadapinya. Tidak sedikit yang putus asa, tidak mau menerima kehadiran buah hatinya, bahkan melakukan perbuatan nekat.

Komentar