Anakku Tertampan di Dunia
Masih terekman dengan jelas dalam
ingatan tentang cerita suamiku ketika Nibras baru lahir. Kulit yang bersih,
hidung mancung, bibir mungil nan merah, rambut dan alis mata yang tebal, dan
keelokan rupa yangsusah diungkapkan. Dengan bangganya ia mengatakan, di antara
deretan bayi yang mengisi ruang incubator
di rumah sakit, makan Nibraslah yang paling tampan. Setiap orang gemas
melihatnya. Maka dengan penuh percaya diri, suami mengajak Nibras yang masih
berumur dua hari jalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Hmm, jika saja tidak
ditegur oleh perawat, bisa jadi ia akan memamerkan ke semua orang agar mereka
bisa melihat putranya yang tampan.
Sungguh,
aku merasa sangat beruntung sebagai orangtuanya. Memiliki anak setampan Nibras.
Ah, tidak hanya tampan, ia juga pandai menyenangkan banyka orang. Dengan
celoteh yang belum terdengar jelas, Nibras sering memamerkan senyum manisnya ke
banyak orang. Tentu saja akan membuat orang lain semakin gemas padanya. Ia
dengan mudah beradaptasi dengan siapa saja yang baru dikenalnya. Ketika bertemu
dengan teman atau tetangga yang dikenal, ia akan menghambur dengan tawanya yang
renyah. Atau, tidak jarang ia akan menanyakan mereka yang lewat di depan ruamh
dengan pertanyaannya yang khas: mana? Dan
ucapan “dadaaa” sambil melambaikan
tangan.
Hadirnya
Nibras juga membuka banyak pintu rejeki. Betapa banyak kebutuhannya yang
dipenuhi secara gratis dari orang lain. Mulai dari baju, sepatu, permainan. Jika
mereka mempunyai sesuatu yang berlebih, bukan karena kita yang boros dengan
memanjakannya. Namun, ada saja yang datang dan memberinya dengan tulus iklhas. Kemudian,
ketika saudaraku banyak bertanya tentang hal itu, maka ia pun akan berkomentar:
“Ya iya lah, anakmu kan ganteng. Siapa saja
juga mau ngasih-ngasih.” Aku pun hanya bisa tertawa mendengarkan kesimpulan
yang dibuatnya.
Seperti
ketika pulang kampung kemarin, aku juga dibuat geli terkait Nibras dan
penggemar barunya. Entahlah, mungkin ia memang memiliki daya tarik tersendiri,
yang kadang tidak aku pahami. Setiap hari ada saja yang berkunjung mengajaknya
bermain. Padahal, anak-anak seumuran 4 hingga 7 tahun ini masih sekali saja
ditemuinya. Hingga ketika aku mengajaknya jalan-jalan sore melewati Musholla,
belasan anak kecil menyapanya: Dede Nibras…Dede
Nibraaaaas. Tiga orang menyongsongnya. Merebutnya dari tanganku, untuk bisa
menuntunya. Nibras yang awalnya takut, kemudian tertawa senang memiliki banyak
teman. Ah, bahagianya aku menjadi ibumu, Nak.
Nah, jika kini aku ditanya siapa lelaki yang
paling tampan di dunia, maka aku dengan mantap menjawabnya: NIBRAS ALIEF
ARDIANSYAH. Karena aku mengagumi pada setiap inchi tubuhnya, pada tawanya yang
renyah, pada senyumnya yang manis, pada perilakunya yang pemaaf, pada polahnya
yang lucu, dan masih banyak, lagi…
Hmm, maafkan istrimu ini ya, Bi. Dalam
hal ketampanan, kau harus jujur mengakui akan kekalahanmu bersaing dengan
anakmu sendiri. Hihihi…
Komentar
Posting Komentar