Aku Tidak Ingin Hamil jika Begini!

Nyatanya semua pengalaman tidaklah mudah. Menjalani hari-hari awal kehamilan benar-benar melelahkan. Ketidaknyamanan ini semakin menjadi-jadi. Lemah, pusing, mual, capek. Itulah rasa-rasa yang seringkali mendominasi. Satu-satunya hal yang paling kudambakan adalah tidur. Bahkan berjam-jam sekalipun, sepertinya masih saja belum cukup. Susah sekali melawannya, meski hati sangatlah ingin.

              Mungkin saja saat itu aku termasuk yang tidak memiliki kesiapan fisik untuk hamil. Bisa jadi Rahim pemilik berat badan yang seringkali hanya berkisar pada angka 36 kg itu belum layak untuk ditempati. Semasa gadis, aku termasuk yang apa adanya dalam hal makan, kalau tidak mau dibialng nrimo atau nelongso. Padahal, kecukupan gizi tidak hanya dipenuhi ketika menjalani masa kehamilan, tapi sebelumnya pun harus tercukupi. Hey, jika kalian adalah seorang gadis yang suatu saat menginginkan hamil dan memiliki bayi yang sehat dan cerdas, ubahlah pola makanmu dengan seimbang dan teratur. Agar kau tidak loyo dan lemah tanpa daya ketika melewati masa kehamilan!

                  Meski menyadari akan hal itu, tetap saja selera makan tidak kunjung hadir. Meski harus di paksa sekalipun. Tidak heran jika kemudian di bulan pertama kehamilan, berat badan justru turun satu kilogram. Ya, hanya 36 kg saja beratku saat itu. Terang saja suami yang jauh di luar kota mengkhawatirkan kondisiku. Setiap saat ia mengontrol kondisiku, memastikan sudah makan, minum, obat meski hanya melalui SMS, atau chatting.

            Kebanyakan ibu-ibu hamil pada umumnya, rakus makan dan tubuhnya berubah bentuk menjadi bulat, namun tidak demikian denganku. Aku tetap saja kurus langsing, hanya sedikit tubuh bagian perut yang lebih maju. Apalagi jika sudah tertutup dengan baju gamis yang biasa aku pakai, maka tidak banyak orang tahu kalau diri ini sedang hamil. Sedangkan di luar sana, ada saja perempuan yang merasa ngeri karena tidak bisa tampil cantik, gara-gara sedang terlahir normal. Sedih sekali rasannya. Aku semakin merasa bersalah. Tiba-tiba saja, seolah semua orang meneriaki diriku egois! Tidak peduli kepada buah hatinya!

           Apa boleh dikata, masalah kehamilan tidak bisa dipukul rata untuk semua perempuan. Nyatanya, ada yang sanggup menjalaninya hingga 13 kali kelahiran. Namun kita juga tidak perlu menyalahkan ketika ada yang mengalami fase kehamilan dengan amat sangat payah. Selama Sembilan bulan kehamilan, tetanggaku tidak doyan makan nasi. Hanya tidur saja, tanpa bisa melakukan banyak aktivitas. Fiuh, jika hamil seperti ini rasanya, pantas saja jika ada yang mengatakan ingin punya anak, asal tidak hamil. Ah, ada-ada saja. Emang bisa?

Komentar