Akhirnya, Putraku Diambil Tuhan Kembali

Mama tidak tahu Sayang, kalau waktumu begitu singkat, begitu pendek. Mama selalu merasa ada hari esok. Tapi ternyata tidak, Sayang…
Detik-detik menjelang kelahiranmu, dalam basah peluh, rasa sakit yang tak tertahankan dan semangat yang menggebu, berpacu antara rasa inigin cepat bertemu dengamu, melihat wajahmu, dan mendekap erat kau dalam dada Mama.
            Ketika detik itu tiba, Mama bangga sekali padamu, Sayang. Dengan izin-Nya kau hadir. Hari itu, Senin 16 Agustus 2004 jam 00.20. Beratmu lebih besar dari perkiraan dan perhitungan dokter. Kulitmu putih bagai pualam dan lili, walau Mama mendengar eranganmu suaramu. Mengiris hati Mama. Subhanallah…
            Belum sempat Mama melihat wajahmu, ketika harus dibawa dan dimasukkan dalam incubator, karena nafasmu sesak, Sayang. Dalam rasa lelah dan ngantuk, Mama sempat berbisik, tidurlah, sayang… kau lelah, Mama yakin besok kau segar dan sehat…
            Mama tak sabar menanti hari terang untuk melihatmu, tapu Mama tertidur dalam lelah, walau telah berjuang keras untuk tetap terjaga. Karena Mama takut terlamabat untuk bertemu denganmu.
            Sayang… pagi itu, pertama kali Mama menatap wajamu. Walau sesak nafasmu masih ada, tapi kamu tampak sehat, gendut, pipimu merah, dan ya Allah, kulitmu memang benar-benar putih bersih. Mama hanya bisa menyentuhmu. Betapa Mama ingin sekali mendekapmu erat dalam dada Mama.
            Sayang, dengan setia Mama selalu ingin bertemu denganmu, menunggu jam besuk tiba. Tiga kali dalam sehari. Tidur Mama tak nyenyak, makan pun tak selera. Hati selalu dan selalu ingin menjengukmu. Ingin memelukmu. Rasa rindu Mama selalu tak tertahankan padamu.
            Waktunya ternyata memang tiba, Sayang. Hari ketujuh, kau boleh digendong dan Mama susui. Subhanallah, ada rasa hangat yang menjalar dalam dada Mama. Allah, ia putraku yang hari-hari lalu tumbuh besar dalam rahimku, yang selalu ke mana-mana bersamaku, pada hari itu ada dalam pelukan dadaku.
            Sayang, pertama kali kau membuka matamu, kau begitu sipit. Hidungmu hamper rata, tapi kulitmu, aah…ia puteraku yang kuminta dalam doa-doda dan tangisku di depan Baitullah-Mu, dua tahun yang lalu, ya Allah. Terima kasih ya Allah, atass karunia-Mu ini. Kau beri aku seorang putra lagi: Ananda “Muhammad Al Abraar Adinata”. Muhammad yang sangat baik hati. Semoga. Amin.
            Kau tahu Sayang, apa doa-doa Mama dalam setiap  Salat setelah kau ada? “Allah sehatkanlah putraku. Jadikanlah ia anak yang istimewa. Ya Allah, kuserahkan ia di jalan-Mu dan selalu berada dalam jalan-Mu,ya Allah.”
            Sayang, saat itu akhirnya tiba. Kau boleh Mama bwa pulang, setelah tiga minggu dari kau datang. Betapa bangga Mama berjalan membawamu. Saat itu tiba, setelah hari-hari penuh penantian dan membawamu. Saat itu tiba, setelah hari-hari penuh penantian dan air mata. Setiap hari dalam perjalan antara rumah dan rumah sakit, setiap Mama membesukmu. Hari itu tiba, Sayang. Kau tidur dalam box baby-mu, yang sudah Mama, kau masih jarang membuka matamu. Mama selalu melindungimu dari sinar. Mama khwatir, mungkin kau merasa silau.
            Sayang, hari-hari selalu baru bersamamu. Saat terjaga malam, saat kau mandi, saat badanmu pasa kena demam. Ahh, kau begitu rentan terhadap flu, persis seperti Mama. Tapi Mama yakin, saat itu akan datang masa di mana kau bisa kuat terhadap semuanya.
            Kau selalu Mama bawa ke mana pun Mama pergi. Dinas luar kota, jalan-jalan ke mall, ke mana saja. Sayang, kau tidak bisa Mama bawa ke kantor. Kau sangat aktif ketika terjaga, Sayang. Walau tangismu jarang terdengar, karena tangismu kecil. Tapi Mama selalu berkata, waktunya pasti ada kau menjerit lantang. Kau buah hati Mama. Kau sumber kebahagiaan Mama. Tak pernah sedikitpun terbesit rasa kesal dan merah terhadapmu.
            Sayang, sepeluh hari terakhir sebelum “waktu itu” benar-benar tiba, kau begitu riang. Kau begitu sering tertawa. Suara jerit dan tangismu mulai lantang. Sepuluh hari terakhirmu bersama Mama dan nenek di Kalimantan, kau begitu manis. Tidak rewel dalam dua jam flight antara Balikpapan dan Jakarta.
                Sayang, hari itu Jumat tanggal 24, Maret badanmu agak panas dan perutmu agak kembung. Kau pasti merasa tidak enak badan. Kau Mama tinggalkan karena Mama mau mengantar nenek ke bandara untuk pulang ke Palembang. Sepanjang jalan Mama menelpon, memantau kesehatanmu. Kata Bik Ima, kau mulai sehat dan segar. Makanmu banyak dank au sudah tertidur lelap ketika Mama sampai rumah sore itu.
                Sayang, esoknya sepanjang siang kau tidur di sisi Mama. Kau terlihat sehar dan riang. Tapi, sepanjang hari kau belum tidur, Sayang. Kau bersuara lantang dan mengoceh riang di samping Mama, sementara Mama terlelap dalam tidur siang. Andai Mama tahu, mungkin kau tidak ingin tidur karena ingin menghabiskan hari-hari terakhirmu dengan bercerita pada Mama sepanjang siang Sabtu itu.
                Kau mulai diare pagi itu, Sayang. Hari minggu, badanmu agak dingin tapi kepalamu panas. Tawa ceriamu masih ada sepanjang pagi itu. Juga pada saat kau habis minum obat dari dokter. Mama berpikir waktu pasti masih ada, di mana diaremu akan mampet dan kau sembuh. Besok kau pasti sudah ceria lagi, walau sore itu kau tampak lemas dan lesu. Batin Mama, ”biar kutunggu sampai habis Magrib, kalau kamu masih juga diare, Mama akan bawa kau ke rumah sakit.”  Selalu saja Mama berpikir, waktu pasti ada dan kau akan sehat.
                Sayang, jam tujuh malam itu kau menghabiskan susu botolmu, walau dengan disendok, karena sudah hampir 10 hari terakhir kau begitu malas minum susumu dengan botol. Setelah susumu habis malam itu, Mama mengganti bajumu dengan lengan [anjang, karena tanganmu agak dingin. Tapi kau begitu ceria tertawa, menjerit lantang. Kau menatap Mama gembira malam itu, seperti  banyak hal yang akan kau ceritakan pada Mama.
                Mama terjaga 12.00 malam. Biasanya kau bangun untuk menyusu. Tapi kau diam di samping Mama, tampak lemas dan lesu. Mata sipitmu terbuka setengah. Mama tahu kau tidak tidur, Sayang. Mama tahu kau benar-benar sakit. Pancaran rasa riangmu jam tujuh tadi hanyalah kamuflase. Ahhhh, Mama terududuk diam sesaat, sebelum tersentak menggendongmu dalam dada Mama. Membangunkan semua orang bahwa kau harus ke rumah sakit detik itu juga. Tapi Sayang, sepanjang jalan Mama masih tetap yakin, waktu masih ada, aka nada masa di mana, kau sehat dan pulang ke rumah. Mungkin kau harus dirawat untuk beberapa hari. Sabar ya, Mama akan menyetir dengan cepat.
                Detik-detik perjuangan rasa sakitmu dimulai. Kau begitu lemas, sedangkan jarum infus untuk memasok cairan belum juga berhasil dimasukkan, karena pembuluh darahmu keccil sekali. Sekujur tubuhmu sudah penuh tusukan jarum, dari ujung kaki sampai kepala. Dokter selalu berkata “fail”.
                Ya Allah, tak sekedip pun mata Mama lepas dari memandangmu. Suster dengan pandangan ini menyuruh Mama menunggu di luar, tapi tak sedikit pun Mama mau beranjak, sebelum mereka berhasil memasukkan cairan ke tubuh lemasmu. Sayang, kau berjuang dengan keringat dinginmu. Allah, andaikan aku bisa bertukar posisi, biarkan aku saja yang di sana. Jangan putraku…
                Detik jam bergerak begitu lambat. Penantian malam panjang yang entah kapan akan berakhir, hingga dokter bedahmu datang jam dua malam. Kata-kata “fail”, masuh tetap ada.
                Jam menunjukkan pukul lima Subuh. Lambat suara Azan terdengar, ketika dokter berkata “berhasil” infusnya masuk.” Alhamdulillah ya Allah. Tapi ketika Mama menatapmu , kau mengerang dengan suara lembutmu. Lembut Mama mengecup keningmu dan berbsisik “ Sayang, Adek Abraar, ini Mama… Adek pasti sembuh, sayang”
                Tapi Allah, batinku galau, ketika kulihat nafas putraku satu-satu
Putraku tidak mengerang lagi…
Putraku tidak memandangku lagi…
Putraku butuh nafas bantuan dan harus dibawa ke ICU…
                Allah,inilah jam tujuh pagi yang paling sulit yang pernah hampa lalui. Detik di mana anakku dinyatakan kritis. Dokter telah menjelaskan semua kemungkinan terburuknya. Mama tetap yakin, Sayang, waktunya aka nada saat kau akan terjaga, sembuh dan sehat.
                Kau mulai detik-detik rasa sakitmu sepanjang siang itu. Dalam lubuk hati Mama yang paling dalam membatin, “Apakah benar waktu masih ada?”  Tapi segera kutepis jauh-jauh, dengan tetap percaya bahwa Adek Abraar akan sembuh. Ia akan tinggal bebrapa hari di rumah sakit dan sembuh.
                Tangis Mama pecah. Air mata berdera-derai tak terbendung saat melihat papamu datang dari Kuala Lumpur siang itu. Oh, dialah temanku berbagai tangis dari sepanjang malam yang menumpuk dan menggantung di kelopak mataku. Rasa sesal harus Mama tumpahkan karena Mama “kecele” dengan tawa riangmu jam tujuh semalam. Andai, dan sejuta andai Mama telah membawamu lebih awal…
                Sampai detik panggilan dari suster untuk mengeluarkan Ananda Abraar dan segera masuk ke ICU secepat mungkin. Langkah Mama serasa terhenti, jantung berdegup keras. Wahai Allah, apa gerangan yang terjadi. Jangan kau ambil putraku. Kembalikan putraku, ya Allah!.
                Mama memandangmu kabur dari balik derai air mata. Kau berjuang dengan tekanan tangan dokter di dadamu. Memompa denyut jantungmu yang mulai melemah.
                “Allah Akbar. Jangan…jangan, ya Allah! Tapi perjuangan  pasti tak tertahankan anakku.”
                Lambat dari lubuk hatiku yang paling…paling…paling dalam terbisik…
                “Allah jangan perpanjang rasa sakitnya. Kalau Engkau memang menghendakinya. Ia amanah-Mu, kukembalikan pada-Mu dengan rela dan ikhlas. Detik itu kau pergi, Sayang…”
                Detik itu jam lima sore tepat. Sore yang paling terasa pilu dan menyayat sembilu. Anakku telah kukembalikan pada yang menitipkannya selama 7,5 bulan dalam dekapan bahaigaku, Subhanallah, Allahu Akabar, apalah dayaku, hamba yang lemah ini, kalau Engkau menghendaki.
                Selamat jalan, Sayang. Adek Abraar, buah hati Mama, cintaku,sayangku, putraku, jangan nakal di sana, Sayang! Karena Mama tak aka nada di sampingmu. Mamam yang banyak ya! Suatu saat Insya Allah kita akan dipertemukan.Amiiin…

(Diceritakan oleh ibu Kartina Haswanto, Bekasi)

Komentar